![]() |
| Mutawwif Haji Moh Al Ghamdi saat mendampingi Jamaah Umroh |
Dari Madrasah hingga Kapal Pesiar: Awal Mula yang Penuh Perjuangan
Makkah - Haji Moh Al Ghamdi, yang dikenal dengan nama asli Abdur Rahim, memulai perjalanan hidupnya dengan penuh kerja keras dan semangat. Lahir di sebuah desa di Lombok, ia lulus dari Madrasah Aliyah Alma Arif Darek pada tahun 1995. Meski pendidikan di sekolah sudah selesai, semangatnya untuk terus belajar dan berkembang tak pernah padam. Ia melanjutkan pendidikan di Praya melalui kursus latihan kerja selama enam bulan. Namun, tak semua impian terwujud dengan mudah. Sebelum menemukan jalannya, ia gagal tiga kali dalam ujian kepolisian pada tahun 1997.
"Lulus di Madrasah Aliyah Alma arif Darek 1995, melanjutkan kursus latihan kerja ( KLK) di Praya. Tahun 1997 ikut daftar jadi polisi 3 kali dan gagal semua", ucapnya sambil senyum tipis
Menemukan Dunia Pariwisata dan Pekerjaan Pertama di Kapal Pesiar
Pada tahun 1998 hingga 1999, Haji Moh Al Ghamdi menjalani pelatihan di bidang pariwisata dan bahasa Inggris di Senggigi, salah satu destinasi terkenal di Lombok. Seiring berjalannya waktu, ia bertekad untuk mencari peluang di dunia pariwisata. Dengan bekal pelatihan yang telah ditempuh, ia akhirnya bekerja di kapal pesiar lokal di Jeddah pada tahun 2001. Di sana, ia bekerja sebagai weter (waiter) selama enam tahun. Pengalaman ini bukan hanya membentuk keterampilan kerjanya, tetapi juga membawanya ke sebuah titik penting dalam hidupnya.
" Selesai ikut kursus latihan kerja, saya langsung bekerja di salah satu cafe hiburan malam di Senggigi sekitar 1 tahun. Kemudian masuk menjadi TKI tahun 2001 di Kapal pesiar Jedah ", ungkapnya
![]() |
| Mutawwif Muhsinin Haji Moh Al Ghamdi (Abdur Rahim) |
Menghadapi Tantangan dan Menemukan Jodoh di Tanah Suci
Di tengah perjalanan karirnya yang penuh tantangan, Haji Moh Al Ghamdi juga menyadari bahwa hidup tak hanya soal karir. Pada tahun 2003, ia menjalani ibadah haji dan bertemu dengan pemilik perusahaan Muhsinin, yang saat itu masih menjadi hendling. Momen tersebut membuka banyak peluang, salah satunya adalah kesempatan untuk bekerja di perusahaan travel Muhsinin. Tahun 2004, dengan hasil kerja kerasnya di kapal pesiar, Haji Moh Al Ghamdi berhasil memberangkatkan ibunya untuk melaksanakan ibadah haji.
"Kebanggaan yang paling besar dan berkesan bagi saya selama 25 tahun di Tanah Suci, di saat mampu memberangkatkan haji orang tua di Tahun 2024", tuturnya penuh haru
Tak hanya itu, pada musim haji tahun 2005, takdir membawanya bertemu dengan jodohnya di Mekah, seorang wanita asal Lombok. Mereka menikah dan dikaruniai dua anak perempuan yang kini menjadi kebanggaan dalam keluarga.
Bergabung dengan Muhsinin: Dedikasi sebagai Mutawwif
Pada tahun 2007, Haji Moh Al Ghamdi bergabung dengan perusahaan Muhsinin sebagai Mutawwif (pendamping ibadah haji dan umrah). Dalam perannya sebagai Mutawwif, ia bertugas mendampingi jamaah haji dan umrah untuk memastikan pelaksanaan ibadah mereka berjalan lancar. Selama berkiprah di dunia ini, ia mengingat betul bahwa kunci utama dalam menjalankan tugas tersebut adalah kesabaran dan keikhlasan. Bagi Haji Moh Al Ghamdi, menghadapi jamaah dengan segala tantangannya bukanlah sebuah rintangan, melainkan sebuah kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri.
Pesan untuk Jamaah: Mengatur Waktu dengan Bijak
Haji Moh Al Ghamdi memberikan pesan berharga kepada jamaah yang ingin melaksanakan ibadah haji atau umrah: "Yang utama adalah bagaimana mengatur waktu. Jangan paksakan tenaga, maksimalkan waktu, dan yang paling penting adalah jangan lupa untuk istirahat dan makan teratur. Mengatur keseimbangan antara ibadah dan kesehatan sangat penting untuk menjalani ibadah dengan baik."
Perjalanan yang Penuh Makna
Perjalanan hidup Haji Moh Al Ghamdi adalah cerminan dari dedikasi, ketekunan, dan keikhlasan. Dari bekerja di kapal pesiar hingga menjadi pendamping ibadah haji dan umrah, ia telah menunjukkan bahwa dengan usaha dan doa, setiap tantangan bisa dihadapi dan diubah menjadi peluang.
Kini, Haji Moh Al Ghamdi terus berkiprah sebagai Mutawwif yang berpengalaman, memberikan pelayanan terbaik untuk jamaah dan menjaga komitmen dalam menjalankan setiap amanah yang dipercayakan kepadanya. Dengan penghasilan yang mencukupi dan kehidupan yang sejahtera, ia mengajarkan kepada kita semua tentang pentingnya sabar, ikhlas, dan bekerja dengan penuh cinta dalam menjalani setiap peran hidup.


0Komentar