Mataram, CatatanNTB.com – Tokoh muda politik Nusa Tenggara Barat (NTB), Herianto, S.P., menyoroti pentingnya reformasi internal partai politik guna memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia. Ia menegaskan, partai politik tidak semata menjadi kendaraan kekuasaan, melainkan harus berfungsi sebagai ruang kaderisasi yang mampu melahirkan pemimpin secara berkelanjutan.

Dalam keterangannya kepada media, Herianto menyebut wacana pembatasan masa jabatan ketua umum partai sebagai langkah positif yang patut dipertimbangkan. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat mendorong terciptanya regenerasi kepemimpinan yang sehat di tubuh partai.

“Partai politik seharusnya menjadi sekolah kepemimpinan. Regenerasi harus berjalan agar kader muda memiliki ruang untuk tumbuh dan mengambil peran strategis. Demokrasi tidak akan berkembang jika ruang kepemimpinan tertutup terlalu lama,” ujarnya.

Ketua AMPG NTB itu juga menekankan bahwa sistem politik modern membutuhkan pembaruan yang tidak hanya berorientasi pada perebutan kekuasaan, tetapi juga pada proses pembinaan kader dan peningkatan kualitas sumber daya politik.

Ia menilai, masyarakat kini semakin kritis dalam menilai kinerja partai politik. Publik tidak hanya melihat figur pemimpin, tetapi juga sistem internal partai, termasuk transparansi, keterbukaan, serta kesempatan yang setara bagi kader.

“Kepercayaan publik akan meningkat jika masyarakat melihat adanya regenerasi yang sehat. Partai harus berani membuka ruang kompetisi internal dan memberi kesempatan kepada generasi muda,” katanya.

Lebih lanjut, Herianto menilai pembatasan periode kepemimpinan dapat mendorong lahirnya gagasan baru sekaligus menghindari stagnasi organisasi. Ia menegaskan, regenerasi bukan ancaman bagi stabilitas partai, melainkan langkah penting agar partai tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Sebagai tokoh muda daerah, Herianto berharap partai-partai politik di Indonesia dapat memperkuat fungsi kaderisasi dan menjadikan organisasi sebagai wadah pendidikan kepemimpinan nasional.

“Politik harus menjadi ruang pengabdian, bukan sekadar mempertahankan kekuasaan. Bangsa ini membutuhkan pemimpin baru yang lahir dari proses kaderisasi yang sehat dan berintegritas,” tutupnya.