Foto: ilustrasi 

Oleh: Arya Stiayawan, Jurnalis NTB

Mataram, CatatanNTB.com ( 26/7/2026) - Piala Dunia selalu menghadirkan ironi yang indah. Jutaan orang rela begadang demi menyaksikan pertandingan, mengenakan jersey negara yang bahkan belum pernah mereka kunjungi, lalu larut dalam euforia kemenangan maupun kesedihan saat tim favorit tersingkir. Sepak bola mampu menyatukan perbedaan melalui semangat kompetisi yang sehat.

Namun, ada satu hal yang selalu menjadi pelajaran dari turnamen terbesar di dunia itu: sportivitas.

Ketika peluit panjang berbunyi, tim yang menang merayakan keberhasilannya dengan penuh sukacita. Di sisi lain, tim yang kalah menyalami lawan, menghormati wasit, dan menerima hasil pertandingan sebagai bagian dari perjalanan olahraga. Mereka mungkin kecewa, bahkan menangis, tetapi tetap menjaga martabat kompetisi.

Di panggung sebesar Piala Dunia, kekalahan tidak pernah dijadikan alasan untuk menghilangkan rasa hormat kepada lawan. Justru di situlah nilai olahraga menemukan maknanya. Para pemain memahami bahwa kemenangan hanyalah hasil dari sebuah proses, sementara kekalahan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.

Ironisnya, pelajaran seperti itu justru sering sulit kita temukan pada kompetisi yang berlangsung begitu dekat dengan kehidupan kita sendiri.

Pekan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat (Porprov) XII NTB 2026 sejatinya merupakan ajang pembinaan atlet daerah. Kompetisi ini menjadi ruang untuk melahirkan bibit-bibit unggul yang kelak diharapkan mampu mengharumkan nama NTB di tingkat nasional bahkan internasional.

Sayangnya, di tengah semangat tersebut, perhatian publik dalam beberapa kesempatan justru tersita oleh berbagai persoalan di luar arena pertandingan. Dugaan kecurangan, protes dari kontingen, perselisihan antarpihak, hingga keributan yang melibatkan ofisial lebih banyak menjadi sorotan dibandingkan prestasi para atlet.

Tentu tidak adil jika seluruh penyelenggaraan Porprov dinilai buruk hanya karena beberapa insiden. Masih banyak cabang olahraga yang berlangsung sportif, wasit yang bekerja profesional, panitia yang menjalankan tugas dengan baik, serta atlet yang bertanding penuh integritas.

Namun, satu insiden saja yang mencederai nilai fair play dapat meninggalkan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan. Kepercayaan publik bisa berkurang, motivasi atlet terganggu, dan tujuan utama olahraga sebagai sarana pendidikan karakter menjadi dipertanyakan.

Yang paling memprihatinkan adalah ketika orang-orang dewasa yang seharusnya menjadi teladan justru gagal menunjukkan kedewasaan. Atlet-atlet muda datang ke arena untuk belajar tentang disiplin, kerja keras, menghormati aturan, dan menerima hasil pertandingan. Ketika yang mereka saksikan justru pertengkaran, saling menyalahkan, atau tindakan yang tidak mencerminkan sportivitas, maka pesan pendidikan olahraga menjadi kabur.

Mereka bisa saja belajar bahwa kemenangan harus diraih dengan cara apa pun. Padahal, olahraga tidak pernah mengajarkan hal itu.

Olahraga sejatinya adalah pendidikan karakter. Menang membutuhkan kemampuan, tetapi menerima kekalahan membutuhkan kebesaran jiwa.

Piala Dunia telah berkali-kali membuktikan bahwa tim-tim besar pun bisa tersingkir. Brasil pernah gagal, Jerman pernah pulang lebih awal, Argentina pernah mengalami kekecewaan, begitu pula banyak negara kuat lainnya. Namun, kompetisi tetap berjalan dengan wibawa karena semua pihak menjadikan aturan sebagai pegangan utama.

Tidak ada turnamen yang sempurna. Tetapi kompetisi akan tetap dihormati ketika seluruh peserta bersedia menghormati aturan yang telah disepakati bersama.

Semangat itulah yang semestinya hidup dalam setiap penyelenggaraan Porprov. Jika terdapat dugaan pelanggaran atau ketidakadilan, mekanisme keberatan harus ditempuh melalui jalur resmi dengan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan melalui emosi yang berujung pada konflik.

Profesionalisme bukan diukur dari seberapa keras membela daerah atau kontingen, melainkan dari seberapa besar komitmen untuk menjaga integritas olahraga.

Pada akhirnya, kualitas sebuah kompetisi tidak hanya diukur dari kemeriahan pembukaan, jumlah medali yang diperebutkan, atau banyaknya peserta yang hadir. Nilainya juga ditentukan oleh bagaimana semua pihak bersikap ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan.

Itulah pelajaran paling berharga yang diberikan Piala Dunia kepada kita. Mendukung dengan penuh semangat adalah hal yang wajar. Kecewa ketika kalah juga manusiawi. Namun, menghormati lawan, menerima hasil pertandingan, dan menjaga sportivitas adalah nilai yang harus tetap dijunjung tinggi.

Karena pada akhirnya, olahraga tidak hanya melahirkan juara. Olahraga membentuk karakter. Dan karakter terbaik selalu tampak bukan ketika seseorang berdiri di podium tertinggi, melainkan ketika ia mampu menerima kekalahan dengan kepala tegak dan martabat yang tetap terjaga.