![]() |
| Wakil ketua komisi VII DPR-RI Rahayu Saraswati |
Mataram, CatatanNTB.com – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, mendorong mahasiswa dan pelajar di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi bagian dari sistem peringatan dini dalam mencegah praktik perdagangan orang di era digital.
Hal itu disampaikan Rahayu dalam Youth Seminar Generation Safe Online bertajuk “Perdagangan Orang di Era Digital” yang digelar di Kampus Universitas Mataram (Unram), Rabu (12/8/2026).
Rahayu mengatakan, perkembangan internet dan penggunaan media sosial turut membuka peluang munculnya berbagai modus baru perdagangan orang. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi melalui peningkatan literasi dan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, NTB memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap perdagangan orang, terlebih daerah ini merupakan salah satu daerah dengan jumlah pekerja migran yang besar.
“Kalau tidak difilter dan tidak ada peningkatan kesadaran tentang persoalan perdagangan orang, tingkat kerentanan itu akan terus meningkat,” ujar Rahayu.
Ia mencontohkan modus penipuan atau scamming yang menawarkan pekerjaan di luar negeri. Korban kerap tergiur tawaran tersebut tanpa terlebih dahulu melakukan pengecekan terhadap informasi maupun pihak yang menawarkan pekerjaan.
Karena itu, Rahayu menilai edukasi mengenai perdagangan orang di ruang digital menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam modus perekrutan ilegal.
Rahayu juga mengajak mahasiswa untuk menjadi “mata dan telinga” di lingkungan masing-masing. Mahasiswa dinilai dapat berperan dalam mengenali indikasi perdagangan orang sekaligus melaporkan jika menemukan dugaan kasus.
“Kita mengajak mahasiswa menjadi bagian dari early warning system. Mereka harus menjadi mata dan telinga, menjadi bagian dari pencegahan dan juga pelaporan,” katanya.
Ia mengingatkan agar kerentanan anak muda tidak dimanfaatkan oleh pelaku perdagangan orang. Tawaran pekerjaan dengan iming-iming penghasilan tinggi, khususnya ke luar negeri, menurutnya harus diteliti terlebih dahulu agar tidak berujung pada eksploitasi.
Rahayu juga mendorong Universitas Mataram dan mahasiswa untuk mengembangkan kajian akademik terkait perdagangan orang. Persoalan tersebut dinilai relevan dikembangkan melalui penelitian, skripsi maupun disertasi.
Selain itu, mahasiswa dapat mengambil peran melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Edukasi mengenai bahaya perdagangan orang dapat disampaikan langsung kepada masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi.
Menurut Rahayu, mahasiswa tidak hanya dapat menjadi agen perubahan di lingkungan kampus, tetapi juga menjadi agen edukasi di tengah masyarakat.
Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap persoalan perdagangan orang sehingga mampu membantu mencegah munculnya korban baru, khususnya di NTB.

0Komentar