Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal 


Mataram, CatatanNTB.com – Perjalanan Safari Ramadhan yang dilakukan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, selama dua pekan terakhir membawa banyak pelajaran penting dari masyarakat di tingkat desa. Berkeliling Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa, termasuk wilayah Bima dan Dompu, membuat pemerintah provinsi melihat langsung berbagai persoalan nyata yang dihadapi warga.

Dalam setiap pertemuan dengan masyarakat, pemerintah desa, hingga pemerintah kabupaten/kota, Gubernur Iqbal mengaku memperoleh banyak informasi langsung yang menjadi bahan evaluasi bagi program prioritas pemerintah provinsi.

Salah satu temuan penting berkaitan dengan program Desa Berdaya, yang dirancang untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin ekstrem. Namun, realita di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda.

Berdasarkan temuan selama Safari Ramadhan, sekitar 40 persen warga yang masuk kategori miskin ekstrem ternyata sudah tidak produktif karena berusia lanjut. Kondisi tersebut membuat mereka tidak bisa lagi didorong melalui skema pemberdayaan ekonomi.

“Pada perjalanan Safari Ramadhan sejauh ini, setelah turun langsung ke masyarakat di desa banyak pelajaran dan informasi yang kita temukan. Salah satunya persoalan miskin ekstrem yang 40 persen merupakan usia tidak produktif dan tidak bisa didorong untuk pemberdayaan ekonomi sesuai tujuan Desa Berdaya,” ujar Iqbal, Jumat (6/3/2026).


Lansia yang masuk klaster Miskin Ekstrim 


Menurutnya, kelompok masyarakat tersebut lebih tepat masuk dalam skema perlindungan sosial, sehingga membutuhkan pendekatan kebijakan yang berbeda.

Selain persoalan kemiskinan ekstrem, Gubernur Iqbal bersama Ketua TP PKK NTB Sinta Muhamad Iqbal juga menaruh perhatian besar pada masalah stunting yang masih menjadi tantangan di NTB.

Meski angka stunting menunjukkan tren penurunan, pemerintah tetap berupaya mendalami berbagai faktor yang menjadi penyebabnya di tengah masyarakat.



Dari hasil kunjungan langsung ke sejumlah desa, ditemukan bahwa penyebab stunting tidak hanya berkaitan dengan pola makan atau gizi, tetapi juga kondisi lingkungan tempat tinggal.

Masalah sanitasi, rumah tidak layak huni, hingga kondisi hunian yang lembab turut memicu munculnya penyakit seperti ISPA dan gangguan paru-paru yang berdampak pada kesehatan anak.

“Terkait stunting juga, setelah turun ke masyarakat ditemukan ada banyak faktor penyebab stunting. Tidak hanya faktor yang sudah diketahui, tetapi juga soal sanitasi, kondisi rumah yang tidak layak dan lembab yang memicu munculnya penyakit,” jelasnya.

Berbagai temuan di lapangan tersebut kini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi NTB untuk mencari solusi yang lebih tepat. Pemerintah berharap kebijakan yang diambil nantinya dapat membuat penanganan kemiskinan ekstrem dan pencegahan stunting di NTB berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. (Srj)