![]() |
| Kepala BRIDA NTB Putu Gede Aryadi bersama pelaku usaha ( UMKM) |
Mataram, CatatanNTB.com – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat langkah hilirisasi hasil riset dan inovasi daerah agar mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi dan berdaya saing tinggi. Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Mentoring Tenant yang digelar di Aula BRIDA NTB, Selasa (2/6/2026).
Kegiatan ini diikuti sekitar 40 peserta yang terdiri dari perwakilan perguruan tinggi, pelaku usaha pemula (tenant), UMKM, serta berbagai mitra binaan. Melalui program tersebut, BRIDA NTB mendorong hasil penelitian tidak berhenti pada tahap akademis, tetapi dapat dikembangkan hingga masuk ke pasar dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Ariyadi, menjelaskan bahwa fokus pengembangan tenant pada tahun 2026 diarahkan pada tindak lanjut hasil riset hingga mencapai tahap hilirisasi. Menurutnya, inovasi harus mampu menjawab kebutuhan pasar dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
“Proses hilirisasi dimulai dari penelitian dan pengembangan, pembuatan prototipe, pengujian produk, penyempurnaan kualitas hingga komersialisasi,” ujarnya.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan modal usaha, akses pasar, legalitas dan sertifikasi produk, hingga penguatan kerja sama dengan industri. Untuk mengatasi hal tersebut, BRIDA NTB berperan sebagai fasilitator melalui pendampingan, inkubasi bisnis, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Beberapa inovasi yang telah menunjukkan hasil positif di antaranya pengolahan anggur menjadi wine halal, pemanfaatan kotoran kelelawar sebagai pupuk, serta pengembangan produk kosmetik berbahan baku lokal.
Dukungan dari kalangan akademisi juga menjadi bagian penting dalam ekosistem inovasi daerah. Dosen Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram, Rini Nofrida, memaparkan berbagai inovasi yang dikembangkan kampus, mulai dari diversifikasi pangan lokal berbasis MOCAF dan sorgum hingga penerapan teknologi pertanian modern berbasis sensor dan Internet of Things (IoT).
Menurutnya, kemitraan yang kuat dengan sektor hulu serta dukungan regulasi pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjamin ketersediaan bahan baku dan mempercepat komersialisasi produk hasil riset.
Dalam sesi diskusi, pelaku UMKM menyampaikan sejumlah kebutuhan, seperti penyederhanaan birokrasi, kemudahan akses pasar, bantuan pengurusan legalitas usaha, serta dukungan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.
Sementara itu, perwakilan Bappeda Kota Mataram menekankan pentingnya perubahan indikator keberhasilan inovasi dari sekadar jumlah inovasi menjadi kualitas dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, BRIDA NTB akan memperkuat kolaborasi multipihak, memfasilitasi legalitas dan sertifikasi HKI, serta memperluas jejaring pemasaran. Pada tahun 2027, pendampingan UMKM juga akan difokuskan pada sertifikasi varietas, perizinan produk, dan lisensi guna meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas.

0Komentar