Forum Connect (foto/ist)


Mataram, CatatanNTB.com – Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mendorong hilirisasi rumput laut sebagai strategi memperkuat ekonomi biru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Sebagai penghasil rumput laut terbesar ketiga di Indonesia dengan produksi lebih dari 3,6 juta ton sepanjang 2019–2023, NTB dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan berbagai produk bernilai tambah berbasis rumput laut.

Potensi tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Forum Connect! #12 bertajuk Advancing Sustainable Blue Economy Innovation for Resilient and Inclusive Growth yang digelar KONEKSI di Universitas Mataram, Selasa (9/6). Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, dan media untuk membahas penguatan ekonomi biru melalui inovasi dan hilirisasi rumput laut.

Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki sumber daya laut yang sangat besar untuk menopang pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

“Melalui teknologi dan inovasi, kita membangun ekosistem nilai tambah yang berdampak pada peningkatan nilai rumput laut nasional. Kita membuktikan bahwa menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, para peneliti memaparkan berbagai inovasi pengolahan rumput laut menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya riset kolaboratif Universitas Mataram, BRIN, dan South Australian Research and Development Institute yang mengembangkan rumput laut sebagai sumber bahan baku nutrasetikal, pangan fungsional, hingga industri kosmetik.

Peneliti Universitas Mataram, Eka S. Prasedya, menjelaskan pengembangan hilirisasi rumput laut tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga berdampak sosial karena sekitar 80 persen pelaku budidaya dan pengolahan rumput laut merupakan perempuan.

“Dengan penguatan rantai nilai dan peningkatan produksi, sektor ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” katanya.

Selain untuk produk kesehatan dan pangan, rumput laut juga dikembangkan menjadi bahan baku bioplastik ramah lingkungan. Melalui riset EcoSea yang melibatkan PT Bahari Agro Indonesia, BRIN, Central Queensland University, dan University of the Sunshine Coast, rumput laut jenis Eucheuma denticulatum atau spinosum berhasil diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah dalam satu proses produksi.

Peneliti utama PT Bahari Agro Indonesia, Maya Puspita, menjelaskan pendekatan yang digunakan mengusung prinsip zero waste dengan memanfaatkan seluruh bagian rumput laut.

“Biomassa rumput laut dapat diolah menjadi bahan kosmetik, pakan ternak, protein, hingga bahan peningkat kualitas bioplastik. Tujuannya bukan hanya menghasilkan material ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan dapat diterapkan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Kementerian PPN/Bappenas, Endang Sulastri, menegaskan bahwa ekonomi biru menjadi salah satu sektor strategis dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, sekitar 35 persen masyarakat NTB masih menggantungkan hidup pada sektor kelautan. Karena itu, pengembangan rumput laut dinilai penting untuk memperkuat ekonomi daerah sekaligus meningkatkan daya saing nasional melalui produk-produk bernilai tambah.

Rektor Universitas Mataram, Prof. Sukardi, menambahkan bahwa penguatan kemitraan riset internasional menjadi faktor penting dalam menjawab tantangan global seperti ketahanan pangan, kesehatan, dan perubahan iklim.

“Kami berkomitmen mendukung pengembangan ekonomi biru melalui berbagai program inovasi dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” katanya.

Forum tersebut juga menghadirkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim, Direktur Pengembangan Indonesia Timur Bappenas Ika Retna Wulandary, serta Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Ditjen Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Prof. Yos Sunitiyoso. Mereka sepakat bahwa penguatan riset, hilirisasi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mendorong pemanfaatan potensi rumput laut NTB secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir.