Mataram, CatatanNTB.com – Universitas Mataram (UNRAM) mengukuhkan enam guru besar tetap dalam Rapat Senat Terbuka, Kamis (10/9/2026). Pengukuhan ini diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas akademik kampus, tetapi juga mendorong kontribusi riset dan inovasi untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Mewakili Gubernur NTB, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) NTB, I Gede Putu Aryadi, mengatakan bertambahnya guru besar di UNRAM membuka peluang lebih besar untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.
Menurutnya, kepakaran para guru besar dapat diarahkan untuk menjawab sejumlah persoalan strategis NTB, mulai dari kemiskinan, ketahanan pangan, pertanian, peternakan, kelautan dan maritim hingga pariwisata.
“Pemerintah Provinsi NTB membutuhkan dukungan riset yang tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Hasil penelitian perlu diterapkan dan dikembangkan melalui proses hilirisasi agar menjadi solusi bagi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
BRIDA NTB, kata Aryadi, terus mendorong pemanfaatan hasil penelitian melalui pendampingan inovasi dan hilirisasi. Sejumlah riset mulai diarahkan untuk mendukung pengembangan energi hijau, pengelolaan limbah, serta penguatan sektor pertanian, peternakan dan kelautan.
BRIDA juga membuka ruang bagi peneliti muda untuk mengembangkan riset yang memiliki potensi menjawab persoalan pembangunan daerah.
Selain mendorong penelitian baru, BRIDA NTB saat ini juga mengidentifikasi ribuan hasil riset yang telah tersedia. Langkah tersebut dilakukan untuk melihat potensi pemanfaatannya sebagai bahan masukan maupun alternatif kebijakan pemerintah daerah.
Dengan demikian, hasil penelitian yang selama ini tersimpan dalam lingkungan akademik diharapkan dapat lebih banyak dimanfaatkan dalam proses pengambilan kebijakan berbasis data dan bukti.
Sementara itu, Rektor UNRAM Prof. Dr. Sukardi menegaskan bahwa pengukuhan guru besar bukan merupakan akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Menurutnya, keberhasilan seorang guru besar tidak cukup diukur dari jumlah publikasi ilmiah. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana ilmu pengetahuan yang dikembangkan mampu memberikan jawaban terhadap persoalan nyata di tengah masyarakat.
Rektor juga mendorong para guru besar untuk lebih aktif hadir di ruang publik. Akademisi diharapkan dapat memanfaatkan media sosial dan berbagai saluran komunikasi untuk memberikan penjelasan berbasis bukti, meluruskan informasi yang keliru, sekaligus meningkatkan literasi masyarakat.
“Kehadiran guru besar di ruang publik bukan untuk mengejar popularitas, tetapi bagaimana ilmu pengetahuan memberikan manfaat dan dampak bagi masyarakat,” tegasnya.
Di lingkungan kampus, para guru besar juga diharapkan berperan sebagai mentor bagi dosen dan peneliti muda. Kolaborasi dalam penelitian, publikasi, jejaring akademik hingga kerja sama internasional dinilai penting untuk membangun ekosistem akademik yang berkelanjutan.
Kepala BRIDA NTB kemudian mengajak UNRAM dan enam guru besar yang baru dikukuhkan untuk menindaklanjuti kerja sama dengan pemerintah daerah. Hasil orasi ilmiah dan kepakaran para guru besar diharapkan dapat diterjemahkan ke dalam forum diskusi, penelitian bersama hingga program hilirisasi yang memiliki target dan dampak terukur.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat posisi perguruan tinggi bukan hanya sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Dengan pengukuhan enam guru besar tersebut, UNRAM diharapkan semakin kuat mengambil peran dalam menjawab persoalan pembangunan sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat NTB.
0Komentar