Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dikes Lombok Tengah dr Nasrullah 


Lombok Tengah, CatatanNTB.com – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Lombok Tengah menunjukkan tren penurunan. Hingga September 2025, prevalensi stunting tercatat sebesar 9,0 persen. Meski demikian, seluruh pihak diminta tidak lengah dan terus memperkuat kolaborasi agar angka tersebut tidak kembali meningkat.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, Nasrulloh, Kamis (5/11/2026).

Nasrulloh menjelaskan, prevalensi stunting di Lombok Tengah berhasil ditekan dari sebelumnya di atas 9 persen menjadi 9,0 persen. Namun, capaian tersebut dinilai masih membutuhkan perhatian serius karena berpotensi mengalami kenaikan apabila upaya pencegahan dan penanganan tidak dilakukan secara berkelanjutan.

Ia berharap seluruh unsur yang selama ini terlibat dalam penurunan stunting tetap menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai peran masing-masing.

"Untuk itu, saya berharap semua pihak yang selama ini berkolaborasi menurunkan angka stunting untuk terus tetap bekerja sesuai porsinya," ujar Nasrulloh.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan Lombok Tengah masih memberikan perhatian khusus terhadap satu wilayah kerja Puskesmas yang berada di zona merah, yakni Puskesmas Pringgarata.

Pihaknya tengah melakukan observasi lebih mendalam untuk mengetahui faktor penyebab angka stunting di wilayah tersebut belum menunjukkan penurunan yang signifikan.

Menurut Nasrulloh, penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan intervensi sektor kesehatan. Perhatian dan keterlibatan keluarga, khususnya orang tua, juga menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya stunting pada anak.

Salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah pola asuh yang kurang tepat. Selain itu, praktik pernikahan di bawah umur serta persalinan dengan risiko tinggi juga menjadi faktor yang dapat berkontribusi terhadap persoalan stunting.

"Sangat membutuhkan perhatian khusus terutama orang tua bayi, karena kasus ini juga disebabkan karena pola asuh yang salah," pungkasnya.

Dengan capaian prevalensi 9 persen tersebut, Dinas Kesehatan berharap seluruh elemen masyarakat tidak mengendurkan upaya pencegahan. Konsistensi kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci agar penurunan stunting di Lombok Tengah dapat terus dipertahankan.