Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal Teken MoU dengan Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia ( ID FOOD)


Jakarta, CatatanNTB.com — Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal berhasil membawa investasi besar di sektor peternakan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan industri ayam terintegrasi senilai Rp1,2 triliun di Kabupaten Sumbawa.

Kesepakatan tersebut ditandatangani bersama Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (ID FOOD) Ghimoyo di Gedung RNI, Mega Kuningan, Jakarta, Senin (9/3). Penandatanganan turut disaksikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda.

Gubernur Iqbal menegaskan proyek ini merupakan langkah strategis untuk membangun ekosistem peternakan yang lebih kuat sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat di NTB.

Menurutnya, industri ayam terintegrasi akan memperkuat rantai produksi dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bibit, pakan, produksi hingga pengolahan dan distribusi hasil peternakan.

Proyek senilai Rp1,2 triliun ini akan dibangun di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, sebagai bagian dari pengembangan klaster industri perunggasan nasional.

Selain memperkuat kemandirian pangan daerah, proyek ini juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat serta memperluas akses pasar bagi peternak lokal di Nusa Tenggara Barat.

Direktur Utama ID FOOD Ghimoyo menjelaskan bahwa sebagai holding BUMN pangan, ID FOOD memiliki kapasitas kuat dalam mendukung pengembangan sektor peternakan nasional melalui jaringan distribusi, logistik, dan pengolahan pangan yang luas.

Saat ini ID FOOD memiliki 74 cabang distribusi, 24 fasilitas cold storage, 1.051 dry storage, serta lebih dari 900 armada logistik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui kerja sama ini, ID FOOD akan membangun ekosistem peternakan terintegrasi di NTB mulai dari tahap hulu hingga hilir.

Pada tahap hulu, perusahaan akan mendukung penyediaan kebutuhan dasar peternakan seperti bibit unggul, pakan, obat, dan vaksin.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menegaskan bahwa proyek ayam terintegrasi ini merupakan bagian dari program strategis nasional yang mendapat perhatian pemerintah pusat.

“Yang kita bangun bukan sekadar fasilitas produksi, tetapi ekosistem industri ayam terintegrasi yang melibatkan peternak rakyat sebagai aktor utama,” tegasnya.

NTB sendiri ditetapkan sebagai salah satu klaster utama pengembangan proyek ayam terintegrasi nasional karena dinilai memiliki potensi wilayah yang besar serta dukungan kuat dari pemerintah daerah.